Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Giordeano De Baby Blue

.
Photo AlbumBubble Gum
ddd
dThumbnaild
ddd
Boarding House
1 Photo
ddd
dThumbnaild
ddd
blew
1 Photo

   View All
.
Blog EntryBlogFeb 12, 2009
Just change ur own mark, then u'll find ur own GPA, in here...   Your ACADEMIC TRANSCRIPT http://www.ziddu.com/download/3497673/AcademicTranscriptofMe.rar.html... more
Previous blog entries:
Jul 12-Syntax - Modules
Jul 12-Sociolinguistics - Language and Practice
Jul 12-Sociolinguistics - Language and Practice
   View All
.
VideoVideoDec 15, 2007
Thumbnailsay what?
Previous videos:
Dec 14-Lebron James
   View All
.
ReviewReviewsFeb 21, 2008
ThumbnailVirus emang selalu lebih dulu muncul dibanding Anti-virus, klasik... Tapi selalu mereka memberikan kiat-kiat buat mendapatkan solusi terbaik, solusi dari mereka para pembuat sekaligus pembasmi virus... Asal kita tahu, 7 dari 10 pembuat virus adalah... more
Previous reviews:
Feb 21-Packet PC
Feb 21-Motherboard + Processor
   View All
....
.
..
MusicMusicMay 31, 2008
Lagu jaman baheula, jadul, enak diinget koq...
Previous playlists:
Mar 4-Jazzy
   View All
..
NoteGuestbook
   
pecarikebenaran wrote on Feb 14, '10
Dean, pa kabar? Maaf gw muncul tiba-tiba. Langung aja ya. Gw tertarik dengan komentar loe di MP mas Ed tentang kelas vs sholat (gak tau napa mas Ed ga lagi memuatnya buat umum, padahal katanya for everyone). Nah, loe kan minta transkrip percakapannya tuh, bahkan loe minta juga mas Ed ngundang si mahasiswa buat gabung. Tapi mas Ed ga nanggepin sedikitpun kayanya tetntang permintaan yang ini (padahal dia mas Ed komen balik kok buat loe). Gw juga komen hal yang lebih kurang gitu, tapi gak tau juga respon mas Ed gimana. Soale kan udah private gaya2nya sekarang tuh blog. Gw kan juga baru nimbrung. Atau jangan2 komen kritis gw langsung diapus tuh sama mas ed.
Nah, ni gw berhasil ngedapetin transkrip kejadian sore itu. Terlepas mana pihak yang benar atau salah, paling ga kita udah ada gambaran dari sisi yang berbeda. Kayanya kita semua perlu de klarifikasi lagi ke pihak2 yang terlibat (kelas tu kan rame mahasiswanya, pasti mereka sangat tahu apa yang sebenarnya terjadi). Atau loe udah ngelakuin klarifikasi ke beberapa orang seperti yang mas Ed sarankan maren? Gimana hasilnya?

Ni dia transkrip yang gw maksud. Met baca ya…

################################################################

Sudah sore ketika itu, sekitar pukul tiga lewat sedikit pada hari pertama perkuliahan semester genap 2009/2010. Di salah satu gedung kuliah, pada lantai dua, sebuah kelas sedang menyelenggarakan perkuliahan Drama II. Tidak begitu ramai, sekitar tiga puluhan mahasiswa yang hadir Mungkin karena hari perdana awal semester, hingga masih ada yang memperpanjang libur kuliah di pekan awal semester baru. Dengan dua orang dosen pembimbing. Sebenarnya di daftar jadwal kuliah ada tiga orang. Namun hanya dua orang dosen saja yang mengelola kelas sore itu.
Sekitar pukul 3.55 salah seorang mahasiswa meninggalkan ruangan. Baru setengah jam kemudian ia kembali. Sedikit kaget, begitu melihat si mahasiswa masuk ruangan, tanpa menunggu si mahasiswa sampai pada tempat duduknya, salah seorang dosen (Dosen I) yang sedang menjelaskan di depan kelas berkata,
“Si **** (menyebut nama mahasiswa tersebut) ini kapan keluarnya” ujarnya dengan nada heran.
“Ada permisi tadi?” tanya dosen I kepada mahasiswa itu.
“I did” jawab si mahasiswa sambil berjalan menuju tempat duduk. Si mahasiswa menjawab dalam bahasa Inggris, karena memang mahasiswa kelas ini jurusan sastra Inggris.
“Kapan?” tanya Dosen I.
“Before azan” balas si mahasiswa yang hampir mencapai tempat duduk.
“Ada permisi ke saya?” dengan menekankan pada kata ‘saya’, sang dosen kembali bertanya.
“I gave a sign” jawab si mahasiswa. Kemudian memindahkan tas dari tempat duduk agar bisa diduduki. Permisi atau izin keluar kelas biasanya dilakukan dengan member isyarat, mengangkat tangan, misalnya.
“Saya tidak lihat” seketika Dosen I menjawab.
Kemudian Dosen I menekankan bahwa kalau mau keluar ruangan harus permisi dan meminta izin kepadanya. Hal ini disampaikan beberapa kali dengan susunan kalimat berbeda dalam bahasa Indonesia dan kemudian bahasa Inggris dengan penekanan pada kesan “ke-saya-an” tadi.
Si mahasiswa terlihat tidak begitu senang pada penekanan “ke-saya-an” dari sang dosen. Dosen I masih berbicara ketika si mahasiswa menjawab,
“I got out for praying” terangnya dengan harapan sang dosen megerti dan faham, serta tidak terlalu berlebihan membahas ‘ketidak-permisian’nya.
Dosen I nampaknya tidak memahami tujuan dan harapan si mahasiswa dengan mengatakan bahwa ia tadi keluar untuk salat. Dengan tetap kukuh dan terkesan memojokkan si mahasiswa, dosen I dengan meninggikan suara kembali mengulang penekanannya tentang kemestian meminta permisi dan izin jika mau keluar.
Terang saja si mahasiswa kurang senang dengan apa yang dilakukan sang dosen. Namun ia masih mampu menahan diri, tapi akhirnya memotong pembicaraan dosen I.
“I won’t discuss about it right here now!”
Sang dosen sepertinya tersinggung, dan semakin berapi-api saja menekankan tentang kemestian meminta permisi dan izin jika mau keluar. Si mahasiswa pun kembali mengulang beberapa kali bahwa ia tidak ingin membicarakan hal yang dibahas sang dosen di kelas saat itu. Sang dosen masih saja keukeuh pada pendiriannya.
“I don’t discuss, this is my class. I have rules. If you want to go out, ask me!” tegasnya.
Menyadari bahwa sang dosen tidak sedikitpun mempertimbangkan alasan dan pernyataannya bahwa ia tidak ingin membicarakannya, bahkan semakin menunjukkan arogansi ‘kekuasaan’ sebagai dosen.
“The problem is not asking permission or what. I told you I did it. But if you want to discuss, we have to change our schedule!” si mahasiswa pun akhirnya tak tahan untuk tidak menjawab.
Sang dosen benar-benar terbawa emosi, kemudian menyatakan jika si mahasiswa mau protes tentang jadwal kuliah, protes ke rektor.
Si mahasiswa sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati, bukannya yang mengatur kebijakan jadwal kuliah adalah fakultas masing-masing, dalam hal ini pembantu dekan I.
“Ya, it is in progress, just wait for the decision” timpal si mahasiswa tidak begitu yakin.
Kembali Dosen I melakukan penekanan dengan menjelaskan kekuasaan absolutnya, bahwa ia lah yang paling berkuasa di kelas. Suasana sudah benar-benar panas. Perasaan tidak nyaman mulai menjalari seisi ruangan. Anehnya, tak seorangpun mencoba menetralisir keadaan. Semua seakan-akan kaget dan mungkin juga bingung atas apa yang sedang terjadi. Perbantahan yang tidak sepatutnya terjadi.
Dosen I masih juga bersitegang dengan tetap mengulang-ulang pernyataan-pernyataannya sebelumnya. Si mahasiswa nampaknya benar-benar menyadari kemana arah percekcokkan ini. Tanpa terduga ia berseru,
“Do I need permission from anyone to face my Lord?”
Seketika itu juga keheningan melanda sekeliling. Namun benar-benar seketika itu saja, beberapa detik kemudian Dosen I entah mengapa kembali pada apa yang dilakukannya sebelum ini, menekankan bahwa keharusan permisi dan minta izin. Si mahasiswa tak habis pikir menyaksikan sikap dosen I, padahal ia tadi mengira bahwa pertanyaannya itu akan menuntaskan semua dan meruntuhkan ego sang dosen. Si mahasiswa benar-benar keliru, karena sang dosen malah semakin ingin menunjukkan kuasanya.
“Do I need permission from anyone to face my Lord?” Dengan menekankan pada setiap suku kata, kali ini pertanyaannya ditujukan pada seluruh kelas.
Berharap hal itu akan menenangkan keadaan. Tentu saja ia seperti mimpi di siang bolong. Karena selama ego diperturutkan, tak satu pun yang dapat mengatasinya. Lihat saja dosen I yang masih terus menyuarakan ‘rule’nya.
“This is my class! I have rules! If you want to go out you have to ask me!”
Karena belum mendapatkan jawaban dari seorangpun, bahkan dosen I semakin menekankan ‘ke-aku-an’nya, sedikit emosi si mahaiswa menjawab,
“No matter where I am, in a seminar, meeting, I have to go when the time (salat time) comes”.
Karena begitu besarnya penekanan dosen I bahwa harus permisi dan minta izin kepadanya, si mahasiwa menambahkan,
“Even if you are the president, I don’t need to ask your permission to face my Lord!”
Nampaknya karena penegasan si mahasiswa, dosen I memberikan tanggapan bahwa dia tahu si mahasiswa keluar karena salat. Tapi tanpa bosan sang dosen kembali menegaskan harus permisi dan minta izin. Benar-benar aneh, bukankah tadi si mahasiswa mengungkapkan bahwa ia telah memberikan isyarat sebelum keluar tadi. Hanya saja sang dosen tidak melihatnya. Ini masalah lain lagi dan sebenarnya tidak perlu dibahas dengan panjang lebar tentang keharusan permisi dan minta izin. Karena melakukan hal ini sama saja tidak menerima keterangan mahasiswa dan menganggapnya tidak permisi dan minta izin sebelum keluar.
Si mahasiswa sudah mulai kehilangan ketertarikan untuk mengatakan kata-kata lain.
“Do I need permission from anyone to face my Lord?” ulangnya dengan lemah.
Dengan mengabaikan pertanyaan itu, Dosen I menyapu pandangan keseluruh kelas, kemudian memusatkan perhatian dan pandangannya pada mahasiswa yang duduk di bangku bagian depan.
“Do I don’t give you permission if you go out for pee?” kilah sang dosen.
“If it for my own,I will ask you. But it was not my own. I have to face my Lord” kembali si mahasiswa menjawab.
Dengan kesal dan nada mengejek Dosen I membantah.
“We don’t ask you to face your Lord. And you don’t need to tell us you go out to face your Lord. If you want to go out, you have to ask me!”
Si mahasiswa pun bersikeras pada pertanyaannya yang tak terjawab itu.
“Do I need permission from anyone to face my Lord?”.
Dosen II yang sedari tadi entah melakukan apa, memutuskan untuk urun suara.
“Eh, anda ikhlas…?”
Merasa dilanggar privasinya dengan pertanyaan sangat sensitif itu, si mahasiswa memotong dan membantah pembicaraan dosen II.
“Hey man, if you are talking about ikhlas, it is none of your business and it’s not my business. It’s about something else…”
Dosen I langsung membantah dengan sengit tanpa memberi kesempatan pada si mahasiswa untuk menyelesaikan kalimatnya. Padahal ia mau sedikit menyinggung tentang keikhlasan karena dosen II sangat gegabah mencuatkan isu sangat sensitiif itu.
“This is my class. So it’s my business. If you want to go out, you have to ask me. It’s my class. I have rule!”
“There is rule above your rule” jawab si mahasiswa tak kalah sengit dan kesal karena dosen I semena-mena sekali menggunakan kata ‘rule’.
“Do I need permission from anyone to face my Lord?”. Untuk kesekian kalinya kembali si mahasiswa bertanya.
Tanpa terduga sebuah buku melayang ke atas langit-langit. Semua perhatian terpusat kea rah depan, tempat insiden pelemparan.
“Sia tu?” Tanya dosen II.
Ternyata hal itu dilakukan oleh salah seorang mahasiswi. Ia terlihat gusar dan gelisah. Mungkin ia merasa sangat tidak nyaman tetap berada dalam kelas dan menyaksikan perdebatan antara dosen dan mahasiswa. Namun memilih untuk tetap berada di kelas.
Kemudian dosen II berdiri dan mengatakan.
“Saya tahu anda keluar tadi kan saat saya sedang berbicara…”
“Do I need permission from anyone to face my Lord?”
Mendapat firasat bahwa dosen II akan mengulang pembahasan seperti yang selalu dilakukan dosen I, si mahasiswa langsung memotong. Pertanyaan ini benar-benar ditujukan si mahasiswa kepada dosen II.
Tanpa menjawab dosen II meneruskan keterangannya.
“Saya tahu jam salat bentrok dengan jam kuliah…”
“Do I need permission from anyone to face my Lord?”.
Menanggapi dengan cepat kemana arah pembicaraan dosen II, tanpa berpikir panjang kembali memotong kalimat dosen II.
Kali ini Dosen I kembali mengambil peran.
“I am muslim. Other muslim. I pray 5 times a day…”
Si mahasiswa nampaknya mulai hilang kesabaran, untuk kesekian kalinya dia kembali memotong.
“I didn’t say you are not muslim. It’s just your opinion.”
Mulai menyerah, dan mungkin memahami maksud dan tujuan si mahasiswa dosen I menjawab dengan tenang, walau sedikit mengejek.
“O, what kind of … muslim you are!”
Merasa melihat peluang, dosen II kembali menyampaikan pikirannya yang belum tuntas.
“Saya tahu apa yang ada dalam pikiran anda. Tapi kan kita ada kewajiban dalam kewajiban. Kita tahu jam kuliah sampai sore dan waktu salat ‘Asar…”
“Jika anda tahu isi kepala saya, maka anda faham. Kalau seperti ini anda tidak tahu sama sekali!” tegas si mahasiswa untuk pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. Tetap memotong pembicaraan. Dosen II langsung terduduk.
Ada jeda beberapa saat, hingga dosen I berkata,
****(menyebut nama mahasiswa tersebut ), could you go out?
“Yes, thank you for ‘convenient’!”
Si mahasiswa pun langsung meninggalkan ruangan kuliah.

########################### T A M A T ##########################
greenrulezz wrote on May 3, '09
Yeah..We definitely know each other, not so well though. But I get some help from u!
wiseinsimplicity wrote on Apr 1, '09
Alo Dean jangan di Facebook aja hangaround nya ya. Biar rame multiply. cheers.
bangwa wrote on Jan 31, '09
ngapain aja lu d sana yan?
apelitumerah wrote on Sep 19, '08
dean, tulisan tentang acara himabsii tu udah gw kirim ke e-mail esa. publish ya..
sorry...
mimipevensie wrote on Jul 9, '08
dari dulu pengin jadi penulis salah satu kolom di New York Journal, terutama pengin nulis review film and buku, nulis soal dunia politik (suka banget sama dunia politik luar negri, walau skarang jarang bgt ngikutinnya coz lebih sering nonton film and baca buku). trus juga pengin jadi editor salah satu majalah (indonesia n luar negri) yg ada hubungannya sama film and fashion
mimipevensie wrote on Jun 27, '08
haha

akhirnya Deutschland masuk final!!

hip hip hura!!
mimipevensie wrote on Jun 20, '08
Deutschland goes to semifinal
mimipevensie wrote on Jun 18, '08
cie.. cie.. cie..

Selamatlah ya, Italy menang tadi malam. Saluut buat Rossi, ga saluut buat Pirlo. hehe
mimipevensie wrote on Jun 15, '08
hore!!
Portugal-nya si b'ed kalah tadi malam 2-0 dari Swiss. yes, yes, yes.

hahaha
mimipevensie wrote on Jun 13, '08
eh. seneng lo ya, deutschland gw kalah. hiks hiks. tapi, td malem italy ancur. hehehe. tapi mainnya seri. yah. selamatlah buat tony

vier erfolg Deutschland!
mimipevensie wrote on Jun 10, '08
dean..

italy kalah, 3-0
hehehe

peace...
madcitysociety wrote on Jun 10, '08
hi mate!
i guess it's better late than never
heh , bonne anniversairre
wish u all the best ! keep it up !
mimipevensie wrote on Jun 9, '08
happy b'day to dean...

"wish u all the best,
keep your mind wide open,
keep moving forward"

Well, it's time to celebrate your birthday, it happens every year

I guess you know the Earth is gonna crash into the sun
But that's no reason why we shouldn't have a little fun
So if you think it's scary, if it's more than you can take
Just blow out the candles and have a piece of cake
_weirdAlYancovic
delacroix13 wrote on May 9, '08
woi cocol, lah takuik se main CS kini yo. alah di bayangan yo ka kanai cucuk samo pisau dek ShiNiGamI? ckckck,... jan lah bantuak itu jo lai bro...!^_^
achonkthemaddog wrote on Apr 29, '08
oi karambia
meyistheone wrote on Apr 18, '08
huah... capek gw jadi pengurus esa.
katanya lo mau back-up gw????
qta ganti chairman yuk
malesin bgt orgnya.
hahahahahaha....
isansasing05 wrote on Apr 17, '08
mana blog ESA tu ian??
wiseinsimplicity wrote on Mar 18, '08
Udah kerja mas kita itu ya? Ntar kutanya-tanya deh. Don't worry calling him CB, he deserves that name ; ).
wiseinsimplicity wrote on Mar 11, '08
udah ada toh account wira? buka account buat 'proyek' yang belum kelar
itu? kalau ada suruh add dong.
...